Total Tayangan Halaman

Senin, 12 Desember 2011

Penyakit Darah Tinggi (Hipertensi)

 

Penyakit darah tinggi atau Hipertensi (Hypertension) adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya.


Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan, berat badan, tingkat aktifitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHG. Dalam aktivitas sehari-hari, tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran stabil. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat diwaktu beraktifitas atau berolahraga.

Bila seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan dan pengontrolan secara teratur (rutin), maka hal ini dapat membawa si penderita kedalam kasus-kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Tekanan darah tinggi yang terus menerus menyebabkan jantung seseorang bekerja extra keras, akhirnya kondisi ini berakibat terjadinya kerusakan pada pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan mata. Penyakit hypertensi ini merupakan penyebab umum terjadinya stroke dan serangan jantung (Heart attack).

Penyakit darah tinggi atau Hipertensi dikenal dengan 2 type klasifikasi, diantaranya Hipertensi Primary dan Hipertensi Secondary :

  • Hipertensi Primary
  • Hipertensi Primary adalah suatu kondisi dimana terjadinya tekanan darah tinggi sebagai akibat dampak dari gaya hidup seseorang dan faktor lingkungan. Seseorang yang pola makannya tidak terkontrol dan mengakibatkan kelebihan berat badan atau bahkan obesitas, merupakan pencetus awal untuk terkena penyakit tekanan darah tinggi. Begitu pula sesorang yang berada dalam lingkungan atau kondisi stressor tinggi sangat mungkin terkena penyakit tekanan darah tinggi, termasuk orang-orang yang kurang olahraga pun bisa mengalami tekanan darah tinggi.


  • Hipertensi Secondary
  • Hipertensi secondary adalah suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat seseorang mengalami/menderita penyakit lainnya seperti gagal jantung, gagal ginjal, atau kerusakan sistem hormon tubuh. Sedangkan pada Ibu hamil, tekanan darah secara umum meningkat saat kehamilan berusia 20 minggu. Terutama pada wanita yang berat badannya di atas normal atau gemuk (gendut).

    Pregnancy-induced hypertension (PIH), ini adalah sebutan dalam istilah kesehatan (medis) bagi wanita hamil yang menderita hipertensi. Kondisi Hipertensi pada ibu hamil bisa sedang ataupun tergolang parah/berbahaya, Seorang ibu hamil dengan tekanan darah tinggi bisa mengalami Preeclampsia dimasa kehamilannya itu.

    Preeclampsia adalah kondisi seorang wanita hamil yang mengalami hipertensi, sehingga merasakan keluhan seperti pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri perut, muka yang membengkak, kurang nafsu makan, mual bahkan muntah. Apabila terjadi kekejangan sebagai dampak hipertensi maka disebut Eclamsia.


    1. Penyebab Hipertensi
    Penggunaan obat-obatan seperti golongan kortikosteroid (cortison) dan beberapa obat hormon, termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflammasi) secara terus menerus (sering) dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Merokok juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi dikarenakan tembakau yang berisi nikotin. Minuman yang mengandung alkohol juga termasuk salah satu faktor yang dapat menimbulkan terjadinya tekanan darah tinggi. Stop menjadi alcoholic!

    2. Penanganan dan Pengobatan Hipertensi
      a. Diet Penyakit Darah Tinggi (Hipertensi)
    • Kandungan garam (Sodium/Natrium)
    • Seseorang yang mengidap penyakit darah tinggi sebaiknya mengontrol diri dalam mengkonsumsi asin-asinan garam, ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk pengontrolan diet sodium/natrium ini ;
      - Jangan meletakkan garam diatas meja makan
      - Pilih jumlah kandungan sodium rendah saat membeli makan
      - Batasi konsumsi daging dan keju
      - Hindari cemilan yang asin-asin
      - Kurangi pemakaian saos yang umumnya memiliki kandungan sodium

    • Kandungan Potasium/Kalium
    • Suplements potasium 2-4 gram perhari dapat membantu penurunan tekanan darah, Potasium umumnya bayak didapati pada beberapa buah-buahan dan sayuran. Buah dan sayuran yang mengandung potasium dan baik untuk di konsumsi penderita tekanan darah tinggi antara lain semangka, alpukat, melon, buah pare, labu siam, bligo, labu parang/labu, mentimun, lidah buaya, seledri, bawang dan bawang putih. Selain itu, makanan yang mengandung unsur omega-3 sagat dikenal efektif dalam membantu penurunan tekanan darah (hipertensi).

      Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat;
      - Diuretic {Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasix (Furosemide)}. Merupakan golongan obat hipertensi dengan proses pengeluaran cairan tubuh via urine. Tetapi karena potasium berkemungkinan terbuang dalam cairan urine, maka pengontrolan konsumsi potasium harus dilakukan.

      - Beta-blockers {Atenolol (Tenorim), Capoten (Captopril)}. Merupakan obat yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah.

      - Calcium channel blockers {Norvasc (amlopidine), Angiotensinconverting enzyme (ACE)}. Merupakan salah satu obat yang biasa dipakai dalam pengontrolan darah tinggi atau Hipertensi melalui proses rileksasi pembuluh darah yang juga memperlebar pembuluh darah.

    ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN STROKE

    I. Konsep Dasar

    1 Pengertian
    Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. (Hendro Susilo, 2000)
    Stroke hemoragik adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis, disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri, vena dan kapiler. (Djoenaidi Widjaja et. al, 1994)
    2 Anatomi fisiologi
    a. Otak
    Berat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh kurang lebih 100 triliun neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar yaitu serebrum (otak besar), serebelum (otak kecil), brainstem (batang otak), dan diensefalon. (Satyanegara, 1998)
    Serebrum terdiri dari dua hemisfer serebri, korpus kolosum dan korteks serebri. Masing-masing hemisfer serebri terdiri dari lobus frontalis yang merupakan area motorik primer yang bertanggung jawab untuk gerakan-gerakan voluntar, lobur parietalis yang berperanan pada kegiatan memproses dan mengintegrasi informasi sensorik yang lebih tinggi tingkatnya, lobus temporalis yang merupakan area sensorik untuk impuls pendengaran dan lobus oksipitalis yang mengandung korteks penglihatan primer, menerima informasi penglihatan dan menyadari sensasi warna.
    Serebelum terletak di dalam fosa kranii posterior dan ditutupi oleh duramater yang menyerupai atap tenda yaitu tentorium, yang memisahkannya dari bagian posterior serebrum. Fungsi utamanya adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan sikap tubuh.
    Bagian-bagian batang otak dari bawak ke atas adalah medula oblongata, pons dan mesensefalon (otak tengah). Medula oblongata merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin, batuk, menelan, pengeluaran air liur dan muntah. Pons merupakan mata rantai penghubung yang penting pada jaras kortikosereberalis yang menyatukan hemisfer serebri dan serebelum. Mesensefalon merupakan bagian pendek dari batang otak yang berisi aquedikus sylvius, beberapa traktus serabut saraf asenden dan desenden dan pusat stimulus saraf pendengaran dan penglihatan.
    Diensefalon di bagi empat wilayah yaitu talamus, subtalamus, epitalamus dan hipotalamus. Talamus merupakan stasiun penerima dan pengintegrasi subkortikal yang penting. Subtalamus fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus akan menimbulkan hemibalismus yang ditandai dengan gerakan kaki atau tangan yang terhempas kuat pada satu sisi tubuh. Epitalamus berperanan pada beberapa dorongan emosi dasar seseorang. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah dan emosi. (Sylvia A. Price, 1995)
    b. Sirkulasi darah otak
    Otak menerima 17 % curah jantung dan menggunakan 20 % konsumsi oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme aerobiknya. Otak diperdarahi oleh dua pasang arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Da dalam rongga kranium, keempat arteri ini saling berhubungan dan membentuk sistem anastomosis, yaitu sirkulus Willisi.(Satyanegara, 1998)
    Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria karotis komunis kira-kira setinggi rawan tiroidea. Arteri karotis interna masuk ke dalam tengkorak dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum, menjadi arteri serebri anterior dan media. Arteri serebri anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia, kapsula interna, korpus kolosum dan bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan parietalis serebri, termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. Arteri serebri media mensuplai darah untuk lobus temporalis, parietalis dan frontalis korteks serebri.
    Arteria vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang sama. Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen magnum, setinggi perbatasan pons dan medula oblongata. Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri basilaris, arteri basilaris terus berjalan sampai setinggi otak tengah, dan di sini bercabang menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri posterior. Cabang-cabang sistem vertebrobasilaris
    ini memperdarahi medula oblongata, pons, serebelum, otak tengah dan sebagian diensefalon. Arteri serebri posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi sebagian diensefalon, sebagian lobus oksipitalis dan temporalis, aparatus koklearis dan organ-organ vestibular. (Sylvia A. Price, 1995)
    Darah vena dialirkan dari otak melalui dua sistem : kelompok vena interna, yang mengumpulkan darah ke Vena galen dan sinus rektus, dan kelompok vena eksterna yang terletak di permukaan hemisfer otak, dan mencurahkan darah, ke sinus sagitalis superior dan sinus-sinus basalis lateralis, dan seterusnya ke vena-vena jugularis, dicurahkan menuju ke jantung. (Harsono, 2000)
    3 Patofisiologi
    Hipertensi kronik menyebabkan pembuluh arteriola yang berdiameter 100-400 mcmeter mengalami perubahan patologik pada dinding pembuluh darah tersebut berupa hipohialinosis, nekrosis fibrinoid serta timbulnya aneurisma tipe Bouchard. Arteriol-arteriol dari cabang-cabang lentikulostriata, cabang tembus arterio talamus (talamo perforate arteries) dan cabang-cabang paramedian arteria vertebro-basilaris mengalami perubahan-perubahan degenaratif yang sama. Kenaikan darah yang “abrupt” atau kenaikan dalam jumlah yang secara mencolok dapat menginduksi pecahnya pembuluh darah terutama pada pagi hari dan sore hari.
    Jika pembuluh darah tersebut pecah, maka perdarahan dapat berlanjut sampai dengan 6 jam dan jika volumenya besarakan merusak struktur anatomi otak dan menimbulkan gejala klinik.
    Jika perdarahan yang timbul kecil ukurannya, maka massa darah hanya dapat merasuk dan menyela di antara selaput akson massa putih tanpa merusaknya. Pada keadaan ini absorbsi darah akan diikutioleh pulihnya fungsi-
    fungsi neurologi. Sedangkan pada perdarahan yang luas terjadi destruksi massa otak, peninggian tekanan intrakranial dan yang lebih berat dapat menyebabkan herniasi otak pada falk serebri atau lewat foramen magnum.
    Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak, dan perdarahan batang otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke batang otak. Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan otak di nukleus kaudatus, talamus dan pons.
    Selain kerusakan parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relatif banyak akan mengakibatkan peninggian tekanan intrakranial dan menyebabkan menurunnya tekanan perfusi otak serta terganggunya drainase otak.
    Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta kaskade iskemik akibat menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan neuron-neuron di daerah yang terkena darah dan sekitarnya tertekan lagi. Jumlah darah yang keluar menentukan prognosis. Apabila volume darah lebih dari 60 cc maka resiko kematian sebesar 93 % pada perdarahan dalam dan 71 % pada perdarahan lobar. Sedangkan bila terjadi perdarahan serebelar dengan volume antara 30-60 cc diperkirakan kemungkinan kematian sebesar 75 % tetapi volume darah 5 cc dan terdapat di pons sudah berakibat fatal. (Jusuf Misbach, 1999)
    4 Dampak masalah
    a. Pada individu
    1) Gangguan perfusi jaringan otak
    Akibat adanya sumbatan pembuluh darah otak, perdarahan otak, vasospasme serebral, edema otak
    2) Gangguan mobilitas fisik
    Terjadi karena adanya kelemahan, kelumpuhan dan menurunnya persepsi / kognitif
    3) Gangguan komunikasi verbal
    Akibat menurunnya/ terhambatnya sirkulasi serebral, kerusakan neuromuskuler, kelemahan otot wajah
    4) Gangguan nutrisi
    Akibat adanya kesulitan menelan, kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, nafsu makan yang menurun
    5) Gangguan eliminasi uri dan alvi
    Dapat terjadi akibat klien tidak sadar, dehidrasi, imobilisasi dan hilangnya kontrol miksi
    6) Ketidakmampuan perawatan diri
    Akibat adanya kelemahan pada salah satu sisi tubuh, kehilangan koordinasi / kontrol otot, menurunnya persepsi kognitif.
    7) Gangguan psikologis
    Dapat berupa ketakutan, perasaan tidak berdaya dan putus asa.emosi labil, mudah marah, kehilangan kontrol diri,
    8) Gangguan penglihatan
    Dapat terjadi karena penurunan ketajaman penglihatan dan gangguan lapang pandang.
    b. Pada keluarga
    1) Terjadi kecemasan
    2) Masalah biaya
    3) Gangguan dalam pekerjaan


    B. Asuhan Keperawatan
    1 Pengkajian
    Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan untuk mengenal masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pengumpulan data, pengelompokkan data dan perumusan diagnosis keperawatan. (Lismidar, 1990)
    a. Pengumpulan data
    Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi tentang status kesehatan klien yang menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya, spiritual, kognitif, tingkat perkembangan, status ekonomi, kemampuan fungsi dan gaya hidup klien. (Marilynn E. Doenges et al, 1998)
    1) Identitas klien
    Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnose medis.
    2) Keluhan utama
    Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi. (Jusuf Misbach, 1999)
    3) Riwayat penyakit sekarang
    Serangan stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat
    mendadak, pada saat klien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan fungsi otak yang lain. (Siti Rochani, 2000)
    4) Riwayat penyakit dahulu
    Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan. (Donna D. Ignativicius, 1995)
    5) Riwayat penyakit keluarga
    Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus. (Hendro Susilo, 2000)
    6) Riwayat psikososial
    Stroke memang suatu penyakit yang sangat mahal. Biaya untuk pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga.(Harsono, 1996)
    7) Pola-pola fungsi kesehatan
    a)Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
    Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol, penggunaan obat kontrasepsi oral.
    b) Pola nutrisi dan metabolisme
    Adanya keluhan kesulitan menelan, nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut.
    c) Pola eliminasi
    Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.
    d) Pola aktivitas dan latihan
    Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah
    e) Pola tidur dan istirahat
    Biasanya klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/nyeri otot
    f) Pola hubungan dan peran
    Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.
    g) Pola persepsi dan konsep diri
    Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif.
    h) Pola sensori dan kognitif
    Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/kekaburan pandangan, perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir.
    i) Pola reproduksi seksual
    Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari beberapa pengobatan stroke, seperti obat anti kejang, anti hipertensi, antagonis histamin.
    j) Pola penanggulangan stress
    Klien biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena gangguan proses berpikir dan kesulitan berkomunikasi.
    k) Pola tata nilai dan kepercayaan
    Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh. (Marilynn E. Doenges, 2000)
    8) Pemeriksaan fisik
    a) Keadaan umum
    (1) Kesadaran : umumnya mengelami penurunan kesadaran
    (2) Suara bicara : kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara
    (3) Tanda-tanda vital : tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi
    b) Pemeriksaan integumen
    (1) Kulit : jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien stroke hemoragik harus bed rest 2-3 minggu
    (2) Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis
    (3) Rambut : umumnya tidak ada kelainan
    c) Pemeriksaan kepala dan leher
    (1) Kepala : bentuk normocephalik
    (2) Muka : umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi
    (3) Leher : kaku kuduk jarang terjadi (Satyanegara, 1998)
    d) Pemeriksaan dada
    Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan menelan.
    e) Pemeriksaan abdomen
    Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang terdapat kembung.
    f) Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus
    Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine
    g) Pemeriksaan ekstremitas
    Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
    h) Pemeriksaan neurologi
    (1) Pemeriksaan nervus cranialis
    Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central.
    (2) Pemeriksaan motorik
    Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
    (3) Pemeriksaan sensorik
    Dapat terjadi hemihipestesi.
    (4) Pemeriksaan refleks
    Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks patologis.(Jusuf Misbach, 1999)
    9) Pemeriksaan penunjang
    a)Pemeriksaan radiologi
    (1) CT scan : didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel, atau menyebar ke permukaan otak. (Linardi Widjaja, 1993)
    (2) MRI : untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik. (Marilynn E. Doenges, 2000)
    (3) Angiografi serebral : untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma atau malformasi vaskuler. (Satyanegara, 1998)
    (4) Pemeriksaan foto thorax : dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita
    stroke. (Jusuf Misbach, 1999)
    b) Pemeriksaan laboratorium
    (1) Pungsi lumbal : pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama. (Satyanegara, 1998)
    (2) Pemeriksaan darah rutin
    (3) Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalam serum dan kemudian berangsur-angsur turun kembali. (Jusuf Misbach, 1999)
    (4) Pemeriksaan darah lengkap : unutk mencari kelainan pada darah itu sendiri. (Linardi Widjaja, 1993)
    b. Analisa data
    Analisa data adalah kemampuan mengkaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien. (Nasrul Effendy, 1995)
    c. Diagnosa keperawatan
    Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisa dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosa keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata (aktual) dan kemungkinan akan terjadi (potensial) di mana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang
    perawat. (Nasrul Effendy, 1995)
    Adapun diagnosa yang mungkin muncul adalah :
    1) Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intracerebral. (Marilynn E. Doenges, 2000)
    2) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplagia (Donna D. Ignativicius, 1995)
    3) Gangguan persepsi sensori : perabaan yang berhubungan dengan penekanan pada saraf sensori, penurunan penglihatan (Marilynn E. Doenges, 2000)
    4) Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah otak (Donna D. Ignativicius, 1995)
    5) Gangguan eliminasi alvi(konstipasi) berhubungan dengan imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat (Donna D. Ignativicius, 1995)
    6) Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan ( Barbara Engram, 1998)
    7) Kurangnya pemenuhan perawatan diri yang berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi (Donna D. Ignativicius, 1995)
    8) Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan tirah baring lama (Barbara Engram, 1998)
    9) Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan penurunan refleks batuk dan menelan.(Lynda Juall Carpenito, 1998)
    10) Gangguan eliminasi uri (inkontinensia uri) yang berhubungan dengan penurunan sensasi, disfungsi kognitif, ketidakmampuan untuk berkomunikasi (Donna D. Ignatavicius, 1995)
    2 Perencanaan
    Rencana asuhan keperawatan merupakan mata rantai antara penetapan kebutuhan klien dan pelaksanaan keperawatan. Dengan demikian rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosa keperawatan.
    Rencana asuhan keperawatan disusun dengan melibatkan klien secara optimal agar dalam pelaksanaan asuhan keperawatan terjalin suatu kerjasama yang saling membantu dalam proses pencapaian tujuan keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien. (Nasrul Effendy, 1995)
    Rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan diatas adalah :
    a Gangguan perfusi jaringan otak yang berhubungan dengan perdarahan intra cerebral
    1) Tujuan :
    Perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal
    2) Kriteria hasil :
    - Klien tidak gelisah
    - Tidak ada keluhan nyeri kepala
    - GCS 456
    - Tanda-tanda vital normal(nadi : 60-100 kali permenit, suhu: 36-36,7 C, pernafasan 16-20 kali permenit)
    3) Rencana tindakan
    a) Berikan penjelasan kepada keluarga klien tentang sebab-sebab gangguan perfusi jaringan otak dan akibatnya
    b) Anjurkan kepada klien untuk bed rest total
    c) Observasi dan catat tanda-tanda vital dan kelainan tekanan intrakranial tiap dua jam
    d) Berikan posisi kepala lebih tinggi 15-30 dengan letak jantung (beri bantal tipis)
    e) Anjurkan klien untuk menghindari batuk dan mengejan berlebihan
    f) Ciptakan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung
    g) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat neuroprotektor
    4) Rasional
    a) Keluarga lebih berpartisipasi dalam proses penyembuhan
    b) Untuk mencegah perdarahan ulang
    c) Mengetahui setiap perubahan yang terjadi pada klien secara dini dan untuk penetapan tindakan yang tepat
    d) Mengurangi tekanan arteri dengan meningkatkan draimage vena dan memperbaiki sirkulasi serebral
    e) Batuk dan mengejan dapat meningkatkan tekanan intra kranial dan potensial terjadi perdarahan ulang
    f) Rangsangan aktivitas yang meningkat dapat meningkatkan kenaikan TIK. Istirahat total dan ketenangan mungkin diperlukan untuk pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus stroke hemoragik / perdarahan lainnya
    g) Memperbaiki sel yang masih viabel
    b Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplegia
    1) Tujuan :
    Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya
    2) Kriteria hasil
    - Tidak terjadi kontraktur sendi
    - Bertambahnya kekuatan otot
    - Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas
    3) Rencana tindakan
    a) Ubah posisi klien tiap 2 jam
    b) Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstrimitas yang tidak sakit
    c) Lakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang sakit
    d) Berikan papan kaki pada ekstrimitas dalam posisi fungsionalnya
    e) Tinggikan kepala dan tangan
    f) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien
    4) Rasional
    a) Menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan
    b) Gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan
    c) Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan
    c Gangguan persepsi sensori : perabaan yang berhubungan dengan penekanan pada saraf sensori
    1) Tujuan :
    Meningkatnya persepsi sensorik : perabaan secara optimal.
    2) Kriteria hasil :
    - Klien dapat mempertahankan tingakat kesadaran dan fungsi persepsi
    - Klien mengakui perubahan dalam kemampuan untuk meraba dan merasa
    - Klien dapat menunjukkan perilaku untuk mengkompensasi terhadap perubahan sensori
    3) Rencana tindakan
    a) Tentukan kondisi patologis klien
    b) Kaji kesadaran sensori, seperti membedakan panas/dingin, tajam/tumpul, posisi bagian tubuh/otot, rasa persendian
    c) Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan, seperti memberikan klien suatu benda untuk menyentuh, meraba. Biarkan klien menyentuh dinding atau batas-batas lainnya.
    d) Lindungi klien dari suhu yang berlebihan, kaji adanya lindungan yang berbahaya. Anjurkan pada klien dan keluarga untuk melakukan pemeriksaan terhadap suhu air dengan tangan yang normal
    e) Anjurkan klien untuk mengamati kaki dan tangannya bila perlu dan menyadari posisi bagian tubuh yang sakit. Buatlah klien sadar akan semua bagian tubuh yang terabaikan seperti stimulasi sensorik pada daerah yang sakit, latihan yang membawa area yang sakit melewati garis tengah, ingatkan individu untuk merawata sisi yang sakit.
    f) Hilangkan kebisingan/stimulasi eksternal yang berlebihan.
    g) Lakukan validasi terhadap persepsi klien
    4) Rasional
    a) Untuk mengetahui tipe dan lokasi yang mengalami gangguan, sebagai penetapan rencana tindakan
    b) Penurunan kesadaran terhadap sensorik dan perasaan kinetik berpengaruh terhadap keseimbangan/posisi dan kesesuaian dari gerakan yang mengganggu ambulasi, meningkatkan resiko terjadinya trauma.
    c) Melatih kembali jaras sensorik untuk mengintegrasikan persepsi dan intepretasi diri. Membantu klien untuk mengorientasikan bagian dirinya dan kekuatan dari daerah yang terpengaruh.
    d) Meningkatkan keamanan klien dan menurunkan resiko terjadinya trauma.
    e) Penggunaan stimulasi penglihatan dan sentuhan membantu dalan mengintegrasikan sisi yang sakit.
    f) Menurunkan ansietas dan respon emosi yang berlebihan/kebingungan yang berhubungan dengan sensori berlebih.
    g) Membantu klien untuk mengidentifikasi ketidakkonsistenan dari persepsi dan integrasi stimulus.
    d Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan sirkulasi darah otak
    1) Tujuan
    Proses komunikasi klien dapat berfungsi secara optimal
    2) Kriteria hasil
    - Terciptanya suatu komunikasi dimana kebutuhan klien dapat dipenuhi
    - Klien mampu merespon setiap berkomunikasi secara verbal maupun isarat
    3) Rencana tindakan
    a) Berikan metode alternatif komunikasi, misal dengan bahasa isarat
    b) Antisipasi setiap kebutuhan klien saat berkomunikasi
    c) Bicaralah dengan klien secara pelan dan gunakan pertanyaan yang jawabannya “ya” atau “tidak”
    d) Anjurkan kepada keluarga untuk tetap berkomunikasi dengan klien
    e) Hargai kemampuan klien dalam berkomunikasi
    f) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk latihan wicara
    4) Rasional
    a) Memenuhi kebutuhan komunikasi sesuai dengan kemampuan klien
    b) Mencegah rasa putus asa dan ketergantungan pada orang lain
    c) Mengurangi kecemasan dan kebingungan pada saat komunikasi
    d) Mengurangi isolasi sosial dan meningkatkan komunikasi yang efektif
    e) Memberi semangat pada klien agar lebih sering melakukan komunikasi
    f) Melatih klien belajar bicara secara mandiri dengan baik dan benar
    e Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan hemiparese/hemiplegi
    1) Tujuan
    Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi
    2) Kriteria hasil
    - Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuan klien
    - Klien dapat mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan
    3) Rencana tindakan
    a) Tentukan kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan diri
    b) Beri motivasi kepada klien untuk tetap melakukan aktivitas dan beri bantuan dengan sikap sungguh
    c) Hindari melakukan sesuatu untuk klien yang dapat dilakukan klien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan
    d) Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukannya atau keberhasilannya
    e) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi/okupasi
    4) Rasional
    a) Membantu dalam mengantisipasi/merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual
    b) Meningkatkan harga diri dan semangat untuk berusaha terus-menerus
    c) Klien mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi, adalah penting bagi klien untuk melakukan sebanyak mungkin untuk diri-sendiri untuk mempertahankan harga diri dan meningkatkan pemulihan
    d) Meningkatkan perasaan makna diri dan kemandirian serta mendorong klien untuk berusaha secara kontinyu
    e) Memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan mengidentifikasi kebutuhan alat penyokong khusus
    f Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan
    1) Tujuan
    Tidak terjadi gangguan nutrisi
    2) Kriteria hasil
    - Berat badan dapat dipertahankan/ditingkatkan
    - Hb dan albumin dalam batas normal
    3) Rencana tindakan
    a) Tentukan kemampuan klien dalam mengunyah, menelan dan reflek batuk
    b) Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, selama dan sesudah makan
    c) Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan menekan ringan diatas bibir/dibawah dagu jika dibutuhkan
    d) Letakkan makanan pada daerah mulut yang tidak terganggu
    e) Berikan makan dengan berlahan pada lingkungan yang tenang
    f) Mulailah untuk memberikan makan peroral setengah cair, makan lunak ketika klien dapat menelan air
    g) Anjurkan klien menggunakan sedotan meminum cairan
    h) Anjurkan klien untuk berpartisipasidalam program latihan/kegiatan
    i) Kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan ciran melalui iv atau makanan melalui selang
    4) Rasional
    a)Untuk menetapkan jenis makanan yang akan diberikan pada klien
    b) Untuk klien lebih mudah untuk menelan karena gaya gravitasi
    c)Membantu dalam melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskuler
    d) Memberikan stimulasi sensori (termasuk rasa kecap) yang dapat mencetuskan usaha untuk menelan dan meningkatkan masukan
    e)Klien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya distraksi/gangguan dari luar
    f) Makan lunak/cairan kental mudah untuk mengendalikannya didalam mulut, menurunkan terjadinya aspirasi
    g) Menguatkan otot fasial dan dan otot menelan dan menurunkan resiko terjadinya tersedak
    h) Dapat meningkatkan pelepasan endorfin dalam otak yang meningkatkan nafsu makan
    i) Mungkin diperlukan untuk memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika klien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut
    g Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubngan dengan imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat
    1) Tujuan
    Klien tidak mengalami kopnstipasi
    2) Kriteria hasil
    - Klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan obat
    - Konsistensi feses lunak
    - Tidak teraba masa pada kolon ( scibala )
    - Bising usus normal ( 7-12 kali per menit )
    3) Rencana tindakan
    a) Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab konstipasi
    b) Auskultasi bising usus
    c) Anjurkan pada klien untuk makan makanan yang mengandung serat
    d) Berikan intake cairan yang cukup (2 liter perhari) jika tidak ada kontraindikasi
    e) Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan klien
    f) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian pelunak feses (laxatif, suppositoria, enema)
    4) Rasional
    a) Klien dan keluarga akan mengerti tentang penyebab obstipasi
    b) Bising usus menandakan sifat aktivitas peristaltik
    c) Diit seimbang tinggi kandungan serat merangsang peristaltik dan eliminasi reguler
    d) Masukan cairan adekuat membantu mempertahankan konsistensi feses yang sesuai pada usus dan membantu eliminasi reguler
    e) Aktivitas fisik reguler membantu eliminasi dengan memperbaiki tonus oto abdomen dan merangsang nafsu makan dan peristaltik
    f) Pelunak feses meningkatkan efisiensi pembasahan air usus, yang melunakkan massa feses dan membantu eliminasi
    h Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama
    1) Tujuan
    Klien mampu mempertahankan keutuhan kulit
    2) Kriteria hasil
    - Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka
    - Klien mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka
    - Tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka
    3) Rencana tindakan
    a) Anjurkan untuk melakukan latihan ROM (range of motion) dan mobilisasi jika mungkin
    b) Rubah posisi tiap 2 jam
    c) Gunakan bantal air atau pengganjal yang lunak di bawah daerah-daerah yang menonjol
    d) Lakukan masase pada daerah yang menonjol yang baru mengalami tekanan pada waktu berubah posisi
    e) Observasi terhadap eritema dan kepucatan dan palpasi area sekitar terhadap kehangatan dan pelunakan jaringan tiap merubah posisi
    f) Jaga kebersihan kulit dan seminimal mungkin hindari trauma, panas terhadap kulit
    4) Rasional
    a) Meningkatkan aliran darah kesemua daerah
    b) Menghindari tekanan dan meningkatkan aliran darah
    c) Menghindari tekanan yang berlebih pada daerah yang menonjol
    d) Menghindari kerusakan-kerusakan kapiler-kapiler
    e) Hangat dan pelunakan adalah tanda kerusakan jaringan
    f) Mempertahankan keutuhan kulit
    i Resiko terjadinya ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan menurunnya refleks batuk dan menelan, imobilisasi
    1) Tujuan :
    Jalan nafas tetap efektif.
    2) Kriteria hasil :
    - Klien tidak sesak nafas
    - Tidak terdapat ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan
    - Tidak retraksi otot bantu pernafasan
    - Pernafasan teratur, RR 16-20 x per menit
    3) Rencana tindakan :
    a) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang sebab dan akibat ketidakefektifan jalan nafas
    b) Rubah posisi tiap 2 jam sekali
    c) Berikan intake yang adekuat (2000 cc per hari)
    d) Observasi pola dan frekuensi nafas
    e) Auskultasi suara nafas
    f) Lakukan fisioterapi nafas sesuai dengan keadaan umum klien
    4) Rasional :
    a) Klien dan keluarga mau berpartisipasi dalam mencegah terjadinya ketidakefektifan bersihan jalan nafas
    b) Perubahan posisi dapat melepaskan sekret dari saluran pernafasan
    c) Air yang cukup dapat mengencerkan sekret
    d) Untuk mengetahui ada tidaknya ketidakefektifan jalan nafas
    e) Untuk mengetahui adanya kelainan suara nafas
    f) Agar dapat melepaskan sekret dan mengembangkan paru-paru
    j Gangguan eliminasi uri (incontinensia uri) yang berhubungan dengan penurunan sensasi, disfungsi kognitif, ketidakmampuan untuk berkomunikasi
    1) Tujuan :
    Klien mampu mengontrol eliminasi urinya
    2) Kriteria hasil :
    - Klien akan melaporkan penurunan atau hilangnya inkontinensia
    - Tidak ada distensi bladder
    3) Rencana tindakan :
    a) Identifikasi pola berkemih dan kembangkan jadwal berkemih sering
    b) Ajarkan untuk membatasi masukan cairan selama malam hari
    c) Ajarkan teknik untuk mencetuskan refleks berkemih (rangsangan kutaneus dengan penepukan suprapubik, manuver regangan anal)
    d) Bila masih terjadi inkontinensia, kurangi waktu antara berkemih pada jadwal yang telah direncanakan
    e) Berikan penjelasan tentang pentingnya hidrasi optimal (sedikitnya 2000 cc per hari bila tidak ada kontraindikasi)
    4) Rasional :
    a) Berkemih yang sering dapat mengurangi dorongan dari distensi kandung kemih yang berlebih
    b) Pembatasan cairan pada malam hari dapat membantu mencegah enuresis
    c) Untuk melatih dan membantu pengosongan kandung kemih
    d) Kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup untuk menampung volume urine sehingga memerlukan untuk lebih sering berkemih
    e) Hidrasi optimal diperlukan untuk mencegah infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal.
    3 Pelaksanaan
    Pada tahap ini dilakukan pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal. Pelaksanaan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah di susun pada tahap pencanaan. (Nasrul Effendy, 1995)
    4 Evaluasi
    Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan yang di sengaja dan terus-menerus dengan melibatkan klien, perawat, dan anggota tim kesehatan lainnya. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang kesehatan, patofisiologi, dan strategi evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang. (Lismidar, 1990)

    Senin, 05 Desember 2011

    askep diare pada anak


    banyak penyebab diare pada anak, asuhan keperawatan anak atau askep diare pada anak perlu mengetahui penyebab dari diare tersebut, kita harus mengerti apa dan bagaimana sebenarnya diare ini,penanganan yang kurang tepat dapat mengakibatkan dehidrasi dan dapat menimbulkan syock hipovolemik
    askep anak,askep diare pada anak
    A. PENGERTIAN.
    Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.
    Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.
    Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.
    Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus.

    B. PENYEBAB
    Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:

    1. Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:
    a) Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela, E. Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus, comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.
    b) Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida.

    2. Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh:
    a) malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.
    b) Kurang kalori protein.
    c) Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.
    Sedangkan menurut Ngastiyah (1997), penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu:
    1. Faktor infeksi
    a) Infeksi enteral
    Merupakan penyebab utama diare pada anak, yang meliputi: infeksi bakteri, infeksi virus (enteovirus, polimyelitis, virus echo coxsackie). Adeno virus, rota virus, astrovirus, dll) dan infeksi parasit : cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, strongxloides) protozoa (entamoeba histolytica, giardia lamblia, trichomonas homunis) jamur (canida albicous).
    b) Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (OMA) tonsilitis/tonsilofaringits, bronkopeneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah dua (2) tahun.
    2. Faktor malaborsi
    Malaborsi karbohidrat, lemak dan protein.
    3. Faktor makanan
    4. Faktor psikologis

    [ad#ikc]
    C. PATOFISIOLOGI
    Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
    Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
    Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.
    Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
    Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut:
    1. Kehilangan air (dehidrasi)
    Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.
    2. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis)
    Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler.
    3. Hipoglikemia
    Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa.Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak.

    4. Gangguan gizi
    Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh:
    - Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang bertambah hebat.
    - Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan terlalu lama.
    - Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik.
    5. Gangguan sirkulasi
    Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal.

    D. MANIFESTASI KLINIS DIARE
    1. Mula-mula anak/bayi cengeng gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan berkurang.
    2. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer, kadang disertai wial dan wiata.
    3. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
    4. Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya difekasi dan tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat.
    5. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elistitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai penurunan berat badan.
    6. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun, denyut jantung cepat, pasien sangat lemas, kesadaran menurun (apatis, samnolen, sopora komatus) sebagai akibat hipovokanik.
    7. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).
    8. Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat dan pernafasan cepat dan dalam. (Kusmaul).

    D. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
    1. Pemeriksaan tinja
    a) Makroskopis dan mikroskopis
    b) PH dan kadar gula dalam tinja
    c) Bila perlu diadakan uji bakteri
    2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.
    3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
    4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.

    E. KOMPLIKASI
    1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
    2. Renjatan hipovolemik.
    3. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram).
    4. Hipoglikemia.
    5. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa, usus halus.
    6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
    7. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.
    F. DERAJAT DEHIDRASI
    Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan:
    a. Kehilangan berat badan
    1) Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan berat badan 2,5%.
    2) Dehidrasi ringan bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%.
    3) Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan 5-10%
    b. Skor Mavrice King
    Bagian tubuh
    Yang diperiksa Nilai untuk gejala yang ditemukan
    0 1 2
    Keadaan umum

    Kekenyalan kulit
    Mata
    Ubun-ubun besar
    Mulut
    Denyut nadi/mata Sehat

    Normal
    Normal
    Normal
    Normal
    Kuat <120 Gelisah, cengeng
    Apatis, ngantuk
    Sedikit kurang
    Sedikit cekung
    Sedikit cekung
    Kering
    Sedang (120-140) Mengigau, koma, atau syok
    Sangat kurang
    Sangat cekung
    Sangat cekung
    Kering & sianosis
    Lemas >40

    Keterangan
    - Jika mendapat nilai 0-2 dehidrasi ringan
    - Jika mendapat nilai 3-6 dehidrasi sedang
    - Jika mendapat nilai 7-12 dehidrasi berat

    c. Gejala klinis
    Gejala klinis Gejala klinis
    Ringan Sedang Berat
    Keadaan umum
    Kesadaran
    Rasa haus
    Sirkulasi
    Nadi
    Respirasi
    Pernapasan
    Kulit
    Uub
    Baik (CM)
    +

    N (120)
    Biasa
    Agak cekung
    Agak cekung
    Biasa
    Normal
    Normal
    Gelisah
    ++

    Cepat
    Agak cepat
    Cekung
    Cekung
    Agak kurang
    Oliguri
    Agak kering
    Apatis-koma
    +++

    Cepat sekali
    Kusz maull
    Cekung sekali
    Cekung sekali
    Kurang sekali
    Anuri
    Kering/asidosis

    G. KEBUTUHAN CAIRAN ANAK
    Tubuh dalam keadaan normal terdiri dari 60 % air dan 40 % zat padat seperti protein, lemak dan mineral. Pada anak pemasukan dan pengeluaran harus seimbang, bila terganmggu harus dilakukan koreksi mungkin dengan cairan parentral, secara matematis keseimbangan cairan pada anak dapat di gambarkan sebagai berikut :

    Umur Berat Badan Total/24 jam Kebutuhan Cairan/Kg BB/24 jam
    3 hari
    10 hari
    3 bulan
    6bulan
    9 bulan
    1 tahun
    2 tahun
    4 tahun
    6 tahun
    10 tahun
    14 tahun
    18 tahun 3.0
    3.2
    5.4
    7.3
    8.6
    9.5
    11.8
    16.2
    20.0
    28.7
    45.0
    54.0 250-300
    400-500
    750-850
    950-1100
    1100-1250
    1150-1300
    1350-1500
    1600-1800
    1800-2000
    2000-2500
    2000-2700
    2200-2700 80-100
    125-150
    140-160
    130-155
    125-165
    120-135
    115-125
    100-1100
    90-100
    70-85
    50-60
    40-50

    Whaley and Wong (1997), Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil 1998), Suharyono, Aswitha, Halimun (1998) dan Bagian Ilmu Kesehatan anak FK UI (1988), menyatakan bahwa jumlah cairan yang hilang menurut derajat dehidrasi pada anak di bawah 2 tahun adalah sebagai berikut :
    Derajat Dehidrasi PWL NWL CWL Jumlah
    Ringan
    Sedang
    Berat 50
    75
    125 100
    100
    100 25
    25
    25 175
    200
    250

    Keterangan :
    PWL : Previous Water loss (ml/kg BB)
    NWL : Normal Water losses (ml/kg BB)
    CWL : Concomitant Water losses (ml/kg BB)

    H. PATHWAYS
    Faktor infeksi Faktor malabsorbsi Gangguan peristaltik

    Endotoksin Tekanan osmotik ? Hiperperistaltik Hipoperistaltik
    merusak mukosa
    usus Pergeseran cairan Makanan tidak Pertumbuhan bakteri
    dan elektrolit ke sempat diserap
    lumen usus Endotoksin berlebih

    Hipersekresi cairan
    dan elektrolit
    Isi lumen usus ?

    Rangsangan pengeluaran
    Hiperperistaltik
    Diare
    Gangguan keseimbangan cairan Gangguan keseimbangan elektrolit
    Kurang volume cairan (dehidrasi) Hiponatremia
    Hipokalemia
    Pusing, lemah, letih, sinkope, anoreksia, Penurunan klorida serum
    mual, muntah, haus, oliguri, turgor kulit
    kurang, mukosa mulut kering, mata dan Hipotensi postural, kulit dingin, ubun-ubun cekung, peningkatan suhu tremor
    tubuh, penurunan berat badan kejang, peka rangsang, denyut jantung cepat dan lemah
    (Horne & Swearingen, 2001; Smeltzer & Bare, 2002

    I. PENTALAKSANAAN
    1. Medis
    Dasar pengobatan diare adalah:
    a. Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.
    1) Cairan per oral
    Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa.
    2) Cairan parentral
    Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai berikut:
    - Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg
    • 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).
    • 7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).
    • 16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit
    - Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg
    • 1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
    - Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg
    • 1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
    • 7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).
    • 16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.
    - Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg
    • Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO3 1½ %.
    Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts).
    • Untuk bayi berat badan lahir rendah
    Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1½ %).
    b. Pengobatan dietetik
    Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg, jenis makanan:
    - Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak tak jenuh
    - Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim)
    - Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak jenuh.
    c. Obat-obatan
    Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain.
    2. Keperawatan
    Masalah klien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadinya gangguan sirkulasi darah, kebutuhan nutrisi, resiko komplikasi, gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai proses penyakit.
    Mengingat diare sebagian besar menular, maka perlu dilakukan penataan lingkungan sehingga tidak terjadi penularan pada klien lain.
    a. Data fokus
    1) Hidrasi
    - Turgor kulit
    - Membran mukosa
    - Asupan dan haluaran
    2) Abdomen
    - Nyeri
    - Kekauan
    - Bising usus
    - Muntah-jumlah, frekuensi dan karakteristik
    - Feses-jumlah, frekuensi, dan karakteristik
    - Kram
    - Tenesmus
    b. Diagnosa keperawatan
    - Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan antara intake dan out put.
    - Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kontaminasi usus dengan mikroorganisme.
    - Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi yang disebabkan oleh peningkatan frekuensi BAB.
    - Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, tidak mengenal lingkungan, prosedur yang dilaksanakan.
    - Kecemasan keluarga berhubungan dengan krisis situasi atau kurangnya pengetahuan.
    c. Intervensi
    1) Tingkatkan dan pantau keseimbangan cairan dan elektrolit
    - Pantau cairan IV
    - Kaji asupan dan keluaran
    - Kaji status hidrasi
    - Pantau berat badan harian
    - Pantau kemampuan anak untuk rehidrasi
    - Melalui mulut
    2) Cegah iritabilitas saluran gastro intestinal lebih lanjut
    - Kaji kemampuan anak untuk mengkonsumsi melalui mulut (misalnya: pertama diberi cairan rehidrasi oral, kemudian meningkat ke makanan biasa yang mudah dicerna seperti: pisang, nasi, roti atau asi.
    - Hindari memberikan susu produk.
    - Konsultasikan dengan ahli gizi tentang pemilihan makanan.
    3) Cegah iritasi dan kerusakan kulit
    - Ganti popok dengan sering, kaji kondisi kulit setiap saat.
    - Basuh perineum dengan sabun ringan dan air dan paparkan terhadap udara.
    - Berikan salep pelumas pada rektum dan perineum (feses yang bersifat asam akan mengiritasi kulit).
    4) Ikuti tindakan pencegahan umum atau enterik untuk mencegah penularan infeksi (merujuk pada kebijakan dan prosedur institusi).
    5) Penuhi kebutuhan perkembangan anak selama hospitalisasi.
    - Sediakan mainan sesuai usia.
    - Masukan rutinitas di rumah selama hospitalisasi.
    - Dorong pengungkapan perasaan dengan cara-cara yang sesuai usia.
    6) Berikan dukungan emosional keluarga.
    - Dorong untuk mengekspresikan kekhawatirannya.
    - Rujuk layanan sosial bila perlu.
    - Beri kenyamanan fisik dan psikologis.
    7) Rencana pemulangan.
    - Ajarkan orang tua dan anak tentang higiene personal dan lingkungan.
    - Kuatkan informasi tentang diet.
    - Beri informasi tentang tanda-tanda dehidrasi pada orang tua.
    - Ajarkan orang tua tentang perjanjian pemeriksaan ulang.
    DAFTAR PUSTAKA

    1. Betz Cecily L, Sowden Linda A. 2002. Buku Saku Keperawatan
    Pediatik, Jakarta, EGC
    2. Sachasin Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatik. Alih bahasa :
    Manulang R.F. Jakarta, EGC
    4. Arjatmo T. 2001. Keadaan Gawat yang mengancam jiwa, Jakarta gaya baru